Benarkah Penyakit Mental Berasal dari Otak? Ini Kata Emil Kraepelin


Pernahkah kamu bertanya kalau penyakit mental itu sebenarnya penyebabnya apasih? apakah benar karena pikiran yang terlalu stres, kelemahan emosi, atau karena ada hal lain yang sebenarnya sedang terjadi dalam tubuh kita?

Di masa lalu, gangguan mental itu sangat sulit dijelaskan secara medis. Tapi pendangan itu akhirnya berubah drastis berkat seorang dokter asal Jerman bernama Emil Kraepelin (1856–1926). Ia mencetuskan ide yang saat itu sangat berani: bahwa penyakit mental ternyata berakar dari kondisi fisik atau biologis di otak kita. Pemikiran brilian inilah yang membuatnya dijuluki sebagai pendiri psikiatri medis modern.

Mari kita bahas teori Emil Kraepelin dan bagaimana ia membagi jenis-jenis gangguan mental dengan bahasa yang mudah dipahami!

Siapa Itu Emil Kraepelin? 

Ilustrasi Teori Emil Kraepelin (1856–1926)

Emil Kraepelin adalah seorang dokter yang memiliki keyakinan kuat bahwa gangguan kejiwaan bisa dikelompokkan, dianalisis, dan ditangani selayaknya penyakit fisik pada umumnya.

Pada tahun 1883, ia menerbitkan sebuah buku berjudul Textbook of Psychiatry. Dalam buku yang sangat berpengaruh ini, Kraepelin menawarkan sistem klasifikasi penyakit mental yang sangat terperinci. Salah satu kontribusi terbesarnya dalam buku tersebut adalah identifikasi kondisi yang ia sebut sebagai "dementia praecox".

Cikal Bakal Pemahaman Skizofrenia

Istilah tentang "dementia praecox" secara harfiah berarti "demensia dini". Kraepelin menggunakan istilah ini untuk membedakannya dari kondisi demensia (kepikunan) yang biasanya terjadi pada usia lanjut, seperti penyakit Alzheimer.

Pada tahun 1893, Kraepelin mendeskripsikan lebih jauh bahwa "dementia praecox"—yang sekarang kita kenal sebagai Skizofrenia—terdiri dari serangkaian kondisi klinis yang ditandai oleh kerusakan aneh pada koneksi internal kepribadian seseorang.

Ia mengamati bahwa penyakit ini biasanya mulai muncul pada masa remaja akhir atau awal masa dewasa, dan sering ditandai dengan kebingungan serta perilaku antisosial.

4 Subkategori Skizofrenia Menurut Kraepelin

Untuk memudahkan diagnosis, Kraepelin membagi kondisi ini ke dalam empat subkategori utama berdasarkan gejala spesifiknya:

1. Demensia "Sederhana" (Simple)

Kondisi ini ditandai dengan penurunan fungsi mental yang terjadi secara lambat dan kecenderungan pasien untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya (withdrawal).

2. Paranoia

Termasuk kategori yang paling sering didengar saat ini, paranoia bermanifestasi sebagai kondisi ketakutan dan perasaan teraniaya. Pasien sering kali melaporkan bahwa mereka merasa sedang "dimata-matai" atau "sedang dibicarakan" oleh orang lain.

3. Hebefrenia (Hebephrenia)

Kategori ini ditandai dengan gaya bicara yang tidak koheren (melantur atau tidak nyambung). Pasien juga sering menunjukkan reaksi emosional dan perilaku yang sangat tidak pantas dengan situasi di sekitarnya, contohnya seperti tertawa terbahak-bahak di tengah situasi yang menyedihkan.

4. Katatonia (Catatonia)

Katatonia sangat berkaitan dengan fungsi motorik. Kondisi ini ditandai dengan gerakan dan ekspresi yang sangat terbatas, sering kali dalam bentuk kekakuan tubuh (misalnya duduk mematung di posisi yang sama selama berjam-jam). Di sisi lain yang ekstrem, pasien juga bisa menunjukkan aktivitas berlebihan, seperti mengayun-ayunkan tubuh ke depan dan ke belakang secara berulang-ulang tanpa henti.

Warisan Kraepelin untuk Dunia Medis Modern

Klasifikasi yang dibuat oleh Kraepelin lebih dari satu abad yang lalu ini ternyata masih membentuk dasar dari diagnosis skizofrenia di era modern.

Seiring berjalannya waktu, keyakinan Kraepelin terbukti benar. Berbagai investigasi modern menunjukkan bahwa para penderita skizofrenia memang memiliki kelainan biokimia dan struktur pada otaknya. Berkat keyakinan Kraepelin bahwa asal-usul penyakit mental adalah murni biologis, bidang psikiatri modern akhirnya mampu menangani berbagai gangguan mental secara medis, salah satunya melalui penggunaan obat-obatan (medikasi) yang sangat membantu kualitas hidup pasien saat ini.

Rereferensi : The Psychology Book: Big Ideas Simply Explained

Semoga Bermanfaat..
Jangan lupa meninggalkan komentar ya.

Lebih baru Lebih lama