| Ilustrasi Pikiran Bekerja Seperti Magnet dari Teori Johann Herbart |
Pernahkah Anda membayangkan bahwa pikiran di dalam kepala kita bekerja layaknya sebuah magnet? Setiap hari, ada ribuan ide, informasi, dan pengalaman baru yang masuk ke otak kita. Lalu, bagaimana cara otak mengatur agar semua ide tersebut tidak saling bertabrakan dan membuat kita kebingungan?
Pertanyaan inilah yang memicu seorang filsuf Jerman bernama Johann Friedrich Herbart (1776–1841) untuk menyelidiki cara kerja pikiran manusia. Melalui pendekatan Strukturalisme, ia menemukan bahwa ide-ide kita ternyata tidak hanya diam, melainkan memiliki energi untuk saling tarik-menarik atau tolak-menolak persis seperti kutub magnet!
Mari kita berkenalan dengan sosoknya dan membedah bagaimana "pertarungan ide" ini terjadi di dalam kepala kita.
Siapa Itu Johann Friedrich Herbart? (Profil Singkat)
Lahir di Oldenburg, Jerman, Herbart adalah sosok pemikir yang brilian. Berikut adalah beberapa tonggak penting dalam perjalanan hidupnya:
- Pendidikan Awal: Ia dididik secara privat di rumah oleh ibunya sendiri hingga berusia 12 tahun, sebelum akhirnya bersekolah di sekolah lokal dan melanjutkan studi filsafat di Universitas Jena.
- Penerus Immanuel Kant: Setelah meraih gelar doktor di Universitas Göttingen dan mengajar filsafat di sana, pada tahun 1809 Herbart ditawari posisi prestisius untuk mengisi kursi filsafat peninggalan filsuf legendaris, Immanuel Kant, di Königsberg.
- Kehidupan Pribadi & Akhir Hayat: Saat bergaul di kalangan aristokrat, ia bertemu dan menikahi Mary Drake, seorang wanita Inggris yang usianya separuh dari usianya. Herbart terus mengabdi sebagai Profesor Filsafat di Universitas Göttingen hingga ia meninggal dunia akibat stroke pada usia 65 tahun.
Beberapa karya kuncinya yang paling berpengaruh antara lain General Practical Philosophy (1808), A Text-book in Psychology (1816), dan Psychology as Science (1824).
Memahami Teori Dinamika Ide Herbart (Secara Sederhana)
Herbart menyadari bahwa sepanjang hidup, kita mengumpulkan jumlah ide yang sangat besar. Ia percaya bahwa pikiran pasti memiliki suatu sistem untuk membedakan dan menyimpan ide-ide tersebut, karena baginya, sebuah ide akan ada selamanya dan tidak bisa dihancurkan.
Untuk menjelaskan sistem tersebut, Herbart menggunakan istilah Vorsfellung yang mencakup pikiran, gambaran mental, hingga keadaan emosional. Berikut adalah tiga prinsip utama dari teorinya:
1. Ide Bekerja Layaknya Magnet
Herbart melihat ide bukan sebagai elemen statis (diam), melainkan elemen yang dinamis dan mampu bergerak. Ia menyatakan bahwa pikiran dan perasaan mengandung energi yang berinteraksi layaknya magnet.
- Ide yang Mirip (Tarik-Menarik): Ide-ide yang sejalan dan tidak bertentangan akan saling tertarik satu sama lain, hidup berdampingan dengan nyaman, dan bergabung menjadi ide yang lebih kompleks di dalam kesadaran kita.
- Ide yang Berbeda (Tolak-Menolak): Sebaliknya, dua ide yang berlawanan atau tidak cocok akan saling menolak layaknya dua kutub magnet yang sama saat didekatkan.
2. Pertarungan Ide dan "Ambang Kesadaran"
Apa yang terjadi jika ada ide yang saling bertentangan? Menurut Herbart, saat ide-ide berbeda saling melawan, mereka berubah menjadi kekuatan yang berkonflik.
Dalam pertarungan ini, salah satu ide akan dipaksa untuk lebih diunggulkan daripada yang lain. Ide yang menang akan tetap bertahan di dalam kesadaran kita. Sementara itu, ide yang kalah akan terdorong keluar dari area kesadaran dan perlahan tenggelam di bawah apa yang disebut Herbart sebagai "ambang kesadaran" (threshold of consciousness).
3. Alam Bawah Sadar Sebagai "Gudang Penyimpanan"
Ide yang terlempar dari kesadaran kita tidak lantas hilang atau hancur. Ia berubah menjadi ide tak sadar (unconscious idea). Herbart memandang alam bawah sadar sebagai semacam "gudang penyimpanan" untuk ide-ide yang lemah atau kalah dalam pertikaian tersebut.
Pemikiran tentang pikiran yang terbagi menjadi dua bagian oleh batas "ambang kesadaran" ini adalah usaha Herbart untuk memberikan solusi terstruktur mengenai bagaimana pikiran yang sehat mengelola ide.
Hebatnya, di kemudian hari, konsep ini pulalah yang diadaptasi dan dikembangkan lebih jauh oleh Sigmund Freud untuk membentuk dasar pendekatan terapeutik paling penting di abad ke-20, yaitu psikoanalisis.