| Ilustrasi teori keputusasaan dan pencarian jati diri Søren Kierkegaard |
Pernahkah kam bertanya, "Siapa saya sebenarnya?" pertanyaan yang sama sebenarnya sudah ada sejak Zaman Yunani Kuno. Seorang filsuf filsuf bernama Søren Kierkegaard (1813–1855) membawa pencarian jati diri ini ke tingkat pemahaman yang jauh lebih dalam.
Dalam buku yanf ia terbitkan pada tahun 1849 berjudul The Sickness Unto Death, Kierkegaard menawarkan analisis diri sebagai cara untuk memahami masalah "keputusasaan" (despair) yang sering melanda manusia.
Mari kita berkenalan dengan sosoknya dan membedah teorinya yang mengubah dunia psikologi!
Siapa Itu Søren Kierkegaard?
Lahir dari keluarga kaya di Denmark, Kierkegaard dibesarkan sebagai seorang penganut Lutheran yang taat. Kehidupannya penuh dengan pencarian makna:
Pendidikan dan Kegelisahan: Ia mempelajari teologi dan filsafat di Universitas Kopenhagen. Meskipun ia menerima warisan dalam jumlah besar dan memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada filsafat, hal itu pada akhirnya justru membuatnya merasa tidak puas. Ia pernah menyatakan, "Apa yang benar-benar perlu saya lakukan adalah memperjelas apa yang harus saya lakukan, bukan apa yang harus saya ketahui".
Kehidupan Asmara dan Kesendirian: Pada tahun 1840, ia bertunangan dengan Regine Olsen, tetapi membatalkan pertunangan tersebut karena merasa dirinya tidak cocok untuk menikah. Ia dikenal sebagai sosok penyendiri, di mana rekreasi utamanya adalah berjalan-jalan di jalanan untuk mengobrol dengan orang asing, serta melakukan perjalanan jauh sendirian menggunakan kereta kuda ke pedesaan.
Akhir Hayat yang Tragis: Kondisi melankolisnya yang umum berdampak mendalam pada kehidupannya. Kierkegaard pingsan di jalan pada 2 Oktober 1855, dan akhirnya meninggal dunia pada 11 November di Rumah Sakit Friedrich, Kopenhagen.
Beberapa karya utamanya antara lain Fear and Trembling (1843), Either/Or (1843), dan The Concept of Anxiety (1844).
Memahami Teori Keputusasaan (Despair) Kierkegaard
Menurut Kierkegaard, keputusasaan tidak berakar dari depresi, melainkan dari keterasingan (alienation) terhadap diri kita sendiri. Ia memetakan bagaimana pikiran manusia terjebak dalam siklus keputusasaan melalui tahapan berikut:
1. Keinginan Menjadi Orang Lain
Semuanya bermula dari pemikiran ketika kita berharap untuk menjadi sesuatu yang "berbeda" dari diri kita yang sebenarnya. Karena itu, kita terus berusaha untuk mengubah diri kita menjadi sosok yang lain.
2. Putus Asa Karena Kegagalan
Kierkegaard mengambil contoh seseorang yang gagal dalam ujian untuk memenuhi syarat sebagai seorang dokter. Orang tersebut mungkin terlihat putus asa karena kehilangan sesuatu (yakni gagal ujian), namun jika ditelisik lebih dekat, ia sebenarnya tidak putus asa atas hal tersebut, melainkan putus asa terhadap dirinya sendiri. Diri yang gagal mencapai tujuan tersebut menjadi sesuatu yang tidak tertahankan. Karena gagal menjadi sosok lain, kita akhirnya gagal dan membenci diri kita sendiri karena kegagalan tersebut.
3. Putus Asa Walau Berhasil (Kehilangan Diri)
Ironisnya, jika kita berhasil mengubah diri menjadi orang lain, kita justru akan meninggalkan diri kita yang sejati. Kierkegaard mencontohkan seorang pria yang ingin menjadi kaisar. Secara ironis, bahkan jika pria ini entah bagaimana berhasil mencapai tujuannya, ia secara efektif telah meninggalkan dirinya yang lama (diri sejatinya).
Penolakan terhadap diri sendiri ini sangatlah menyakitkan: keputusasaan menjadi luar biasa ketika seorang manusia ingin menghindari dirinya sendiri. Pada akhirnya, baik saat kita gagal maupun berhasil menjadi sosok yang berbeda, keduanya tetap berujung pada keputusasaan terhadap diri kita yang sesungguhnya.
Solusi: Berdamai dan Menerima Diri Sejati
Apakah ada jalan keluar? Tentu saja. Kierkegaard menyimpulkan bahwa seorang manusia dapat menemukan kedamaian dan harmoni batin dengan menemukan keberanian untuk menjadi dirinya yang sejati, dibandingkan ingin menjadi orang lain.
Untuk melarikan diri dari keputusasaan, kita harus menerima diri kita yang sebenarnya. Kierkegaard menegaskan bahwa "Untuk berkehendak menjadi diri yang sesungguhnya, sejatinya adalah kebalikan dari keputusasaan". Ia percaya bahwa keputusasaan akan menguap begitu kita berhenti menyangkal siapa diri kita sebenarnya dan mencoba untuk mengungkap serta menerima sifat asli kita.
Penekanan Kierkegaard pada tanggung jawab individu, serta kebutuhan untuk menemukan esensi dan tujuan sejati dalam hidup ini, sering kali dianggap sebagai awal mula dari pendekatan filsafat eksistensialisme.