Dekolonisasi Pikiran: Pelajaran Prof. Bagus tentang Mental Inferior, Kompetensi, dan Kemerdekaan Berpikir
Ada satu video YouTube yang awalnya saya kira hanya akan membahas tentang sejarah dan dampak penjajahan.
Ternyata saya salah.
Semakin mengikuti penjelasan Prof. Bagus Mulyadi, pembahasannya justru terasa semakin dekat dengan kehidupan kita hari ini. Bukan hanya tentang masa lalu Indonesia, tetapi tentang sesuatu yang mungkin masih hidup di dalam diri kita: cara kita memandang diri sendiri, kemampuan kita, dan posisi kita di hadapan orang lain.
Dari sana muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu pikiran saya:
Indonesia memang sudah merdeka. Tapi, apakah kita benar-benar sudah merdeka dalam berpikir?
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk ke pembahasan Prof. Bagus tentang dekolonisasi pikiran.
Dan menariknya, Prof. Bagus tidak memulai pembahasan dari teori yang jauh dari kehidupan.
Ia justru memulainya dari perjalanan hidupnya sendiri.
Dari IPK 2,69 hingga Profesor di Inggris
Salah satu bagian yang paling menarik dari cerita Prof. Bagus adalah perjalanan akademiknya.
Ia bercerita bahwa dirinya bukan mahasiswa dengan prestasi akademik luar biasa. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Mesin di ITB dengan IPK 2,69.
Angka yang sebenarnya hanya sedikit di bawah batas 2,75.
Tetapi bagi seorang lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan, selisih angka itu ternyata bisa terasa sangat besar.
Banyak perusahaan menetapkan batas IPK minimum 2,75.
Ia bahkan sempat merasa putus asa.
Namun perjalanan Prof. Bagus kemudian membawanya ke Taiwan.
Melalui sebuah surat lamaran yang ia ceritakan dengan sangat emosional, ia akhirnya diterima oleh seorang profesor di National Taiwan University (NTU) dan mendapatkan kesempatan belajar tanpa harus membayar biaya kuliah.
Di sinilah kehidupannya berubah.
Lingkungan akademik yang sangat kompetitif membuatnya berhadapan dengan tekanan, kesendirian, dan kesulitan belajar yang luar biasa.
Sampai pada satu titik, seperti yang ia gambarkan, “punggungnya sudah menempel di tembok.”
Tidak ada banyak pilihan selain berjuang.
Dan justru dalam kondisi itulah ia menemukan sesuatu tentang dirinya sendiri.
Ia mulai belajar dengan cara yang berbeda. Ia mencoba memahami matematika bukan sekadar melalui rumus, tetapi melalui “perasaan” dan analogi.
Dari pengalaman tersebut, ia menemukan kesadaran yang sangat penting:
ternyata dirinya tidak bodoh.
Mungkin selama ini ia hanya belum menemukan cara belajar dan cara berpikir yang tepat.
Dari Taiwan, perjalanan akademiknya berlanjut ke Prancis, kemudian Imperial College London, hingga akhirnya menjadi dosen dan profesor di University of Nottingham, Inggris.
Ketika mendengar perjalanan ini, saya merasa bagian tersebut bukan sekadar cerita sukses.
Ada pesan yang jauh lebih dalam.
Kadang-kadang kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa kita tidak mampu, padahal kita belum pernah benar-benar menemukan batas kemampuan kita.
Dan dari sinilah pembahasan Prof. Bagus kemudian bergerak ke persoalan yang jauh lebih besar.
Jangan-Jangan Masalahnya Bukan Kita Tidak Mampu?
Prof. Bagus kemudian berbicara mengenai sesuatu yang ia kaitkan dengan mental inferior atau post-colonial syndrome.
Gagasannya cukup provokatif.
Menurut penjelasan yang disampaikan dalam video, rasa rendah diri yang berkembang dalam masyarakat Indonesia tidak bisa begitu saja dianggap sebagai bukti bahwa kita memang kurang mampu.
Ada sejarah panjang yang perlu dilihat.
Selama masa kolonial, masyarakat pribumi ditempatkan dalam struktur sosial yang membuat posisi berpikir dan mengambil keputusan berada di tangan kelompok yang berkuasa.
Sementara masyarakat pribumi lebih banyak ditempatkan sebagai pihak yang menjalankan.
Dari sinilah Prof. Bagus mengajak kita melihat kemungkinan adanya warisan psikologis dan sosial yang kemudian membentuk cara kita memandang diri sendiri.
Bukan berarti kita secara genetik lebih rendah.
Justru sebaliknya.
Masalahnya mungkin ada pada cara kita dibentuk untuk memandang kemampuan kita sendiri.
Ini adalah salah satu gagasan paling menarik dalam pembahasan tersebut.
Karena kalau kita percaya sejak awal bahwa orang lain memang lebih pintar, lebih maju, dan lebih pantas menentukan sesuatu, maka kita tidak perlu lagi dijajah untuk merasa inferior.
Kita sudah melakukannya sendiri.
Ketika Rendah Diri Dibungkus dengan Moralitas
Bagian lain yang menurut saya cukup menohok adalah ketika Prof. Bagus membahas hubungan antara moralitas dan kompetensi.
Kita mungkin pernah mendengar kalimat:
“Saya memang tidak pintar, tapi yang penting saya orang baik.”
Sekilas terdengar rendah hati.
Tetapi Prof. Bagus mengajak kita melihat kemungkinan lain di balik cara berpikir tersebut.
Jangan sampai kita menggunakan moralitas sebagai alasan untuk tidak meningkatkan kemampuan.
Menjadi orang baik tentu penting.
Tetapi menjadi baik tidak membuat ketidakmampuan menjadi sesuatu yang harus dibiarkan.
Seorang pemimpin harus kompeten.
Seorang profesional harus menguasai pekerjaannya.
Seorang intelektual harus mampu mempertanggungjawabkan gagasannya.
Dan seseorang yang dipercaya mengambil keputusan publik harus memiliki kemampuan untuk memahami konsekuensi dari keputusan tersebut.
Kebaikan dan kompetensi bukan dua pilihan yang harus dipilih salah satunya.
Kita bisa menjadi baik sekaligus kompeten.
Justru itulah yang seharusnya diperjuangkan.
Mengapa Kita Takut Mempertanyakan Orang yang Dianggap Lebih Tinggi?
Dari sini pembahasan Prof. Bagus kemudian masuk ke persoalan critical thinking.
Menurutnya, salah satu persoalan kita adalah budaya konformitas dan mental feodal.
Sejak kecil, kita terbiasa hidup dalam struktur yang mengenalkan kita pada figur otoritas.
Orang tua.
Guru.
Atasan.
Pejabat.
Tokoh agama.
Orang yang lebih senior.
Menghormati mereka tentu bukan sesuatu yang salah.
Masalahnya muncul ketika rasa hormat berubah menjadi ketidakmampuan untuk mempertanyakan.
Padahal berpikir kritis bukan berarti tidak menghormati.
Berpikir kritis berarti berani bertanya:
“Apakah ini benar?”
Bukan hanya:
“Siapa yang mengatakan?”
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Seseorang bisa memiliki gelar tinggi dan tetap salah.
Seseorang bisa memiliki jabatan tinggi dan tetap keliru.
Sebaliknya, seseorang yang lebih muda atau tidak memiliki jabatan tinggi belum tentu tidak memiliki gagasan yang benar.
Jika kita terbiasa menilai kebenaran berdasarkan siapa yang berbicara, bukan berdasarkan alasan dan bukti yang diberikan, maka kita sebenarnya sedang menyerahkan kemampuan berpikir kita kepada orang lain.
Ketika Dunia Hanya Dilihat Hitam dan Putih
Prof. Bagus juga mengkritik kecenderungan masyarakat untuk melihat persoalan secara terlalu sederhana.
Hitam atau putih.
Malaikat atau setan.
Pro atau kontra.
Pemerintah benar atau pemerintah salah.
Tokoh ini baik atau tokoh itu jahat.
Padahal kehidupan hampir tidak pernah sesederhana itu.
Ketika kemampuan berpikir kita berhenti pada pola biner, kita menjadi jauh lebih mudah diarahkan.
Kita tidak lagi mencoba memahami persoalan.
Kita hanya memilih kubu.
Dan ketika sudah berada di dalam sebuah kubu, kita cenderung membela apa pun yang dikatakan kelompok kita.
Di sinilah critical thinking menjadi penting.
Bukan supaya kita selalu berbeda.
Tetapi supaya kita mampu membedakan antara berpikir dan sekadar mengikuti.
Mengapa Indonesia Terlihat “Miskin Narasi”?
Pembahasan kemudian menjadi semakin besar.
Prof. Bagus membawa kita melihat posisi Indonesia dalam dunia ilmu pengetahuan.
Indonesia sebenarnya memiliki sesuatu yang sangat penting bagi dunia.
Hutan tropis.
Lahan gambut.
Mangrove.
Terumbu karang.
Keanekaragaman hayati.
Budaya.
Dan pengalaman sosial yang sangat kompleks.
Namun pertanyaannya:
Mengapa kita sering hanya menjadi objek yang diteliti, bukan pihak yang menentukan narasi penelitiannya?
Inilah yang dimaksud Prof. Bagus sebagai persoalan narasi.
Kita memiliki sumber daya yang luar biasa, tetapi belum selalu memiliki kekuatan pengetahuan dan narasi untuk menjelaskan nilai strategisnya kepada dunia.
Akibatnya, pihak lain datang mempelajari Indonesia.
Mereka meneliti.
Mereka menulis.
Mereka menghasilkan teori.
Sementara kita terkadang hanya menjadi sumber data.
Bukan berarti ilmu pengetahuan dari Barat harus ditolak.
Justru kita perlu belajar dari siapa pun.
Tetapi ada satu tahap yang tidak boleh dilewatkan:
kita juga harus mampu menghasilkan pengetahuan sendiri.
Leluhur Kita Tidak Selalu Sesederhana yang Kita Bayangkan
Prof. Bagus kemudian membawa contoh dari sejarah dan kebudayaan lokal.
Ia menyinggung tokoh seperti Bujangga Manik dan Tun Sri Lanang untuk menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara memiliki tradisi pengamatan, pencatatan, dan pemikiran yang sering kali tidak mendapatkan tempat yang cukup dalam narasi modern.
Contohnya menarik.
Bujangga Manik dikenal melalui catatan perjalanan yang menggambarkan wilayah Nusantara pada masa lalu.
Apa yang ingin ditunjukkan dari contoh seperti ini bukan sekadar kebanggaan terhadap leluhur.
Ada pertanyaan yang lebih penting:
Mengapa kita tidak lebih sering menggali tradisi pengetahuan yang pernah berkembang di tempat kita sendiri?
Kalau kita terus menganggap bahwa tradisi berpikir hanya datang dari Barat, lama-lama kita sendiri akan lupa bahwa masyarakat Nusantara juga memiliki sejarah panjang dalam mengamati, mencatat, mengembangkan pengetahuan, dan menyelesaikan persoalan.
Dekolonisasi pikiran, dalam konteks ini, bukan berarti menolak pengetahuan dari luar.
Tetapi mengembalikan kepercayaan bahwa kita juga mampu berpikir dan menghasilkan pengetahuan.
Jangan Hanya Menjadi Konsumen Pengetahuan
Di bagian ini, saya merasa pesan Prof. Bagus semakin jelas.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar.
Tidak cukup hanya menjadi konsumen teknologi.
Tidak cukup hanya menjadi konsumen teori.
Dan tidak cukup hanya mengirim bahan mentah untuk kemudian diolah menjadi sesuatu yang bernilai lebih tinggi di tempat lain.
Kita juga perlu menjadi produsen pengetahuan.
Negara-negara besar memahami bahwa pengetahuan bisa menjadi kekuatan.
Ilmu pengetahuan dapat menjadi diplomasi.
Universitas dapat menjadi pusat pengaruh.
Para ilmuwan dapat menjadi penghubung antarnegara.
Dan diaspora akademik sebenarnya bisa menjadi aset besar bagi Indonesia.
Karena itu, persoalannya bukan hanya:
“Berapa banyak orang Indonesia yang berhasil bekerja di luar negeri?”
Tetapi juga:
“Berapa banyak pengetahuan yang mereka bawa kembali untuk memperkuat Indonesia?”
Berhenti Menunggu Seseorang Menyelamatkan Kita
Setelah berbicara tentang bangsa dan pengetahuan, Prof. Bagus membawa pembahasan kembali kepada sesuatu yang jauh lebih dekat:
tanggung jawab individu.
Ada kecenderungan untuk selalu mencari pihak yang harus disalahkan.
Pemerintah.
Sistem.
Atasan.
Sekolah.
Lingkungan.
Bahkan keadaan.
Kita juga sering menunggu hadirnya sosok yang dianggap mampu menyelesaikan semuanya.
Seolah-olah akan selalu ada seseorang yang datang sebagai penyelamat.
Prof. Bagus mengkritik pola pikir semacam ini sebagai bentuk outsourcing responsibility—melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.
Dan di sinilah saya merasa ada satu makna menarik dari gotong royong.
Gotong royong bukan berarti menunggu untuk digotong.
Gotong royong berarti ikut menggotong.
Artinya, kita bukan hanya bertanya:
“Siapa yang akan menyelesaikan masalah ini?”
Tetapi juga:
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Kita Terlalu Sering Membicarakan Hak, tetapi Lupa Kewajiban
Prof. Bagus juga menyinggung sesuatu yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat fundamental:
hak selalu berkaitan dengan kewajiban.
Kita sering berbicara tentang hak.
Hak mendapatkan pelayanan.
Hak mendapatkan pendidikan.
Hak mendapatkan kesempatan.
Hak mendapatkan kehidupan yang layak.
Semua itu penting.
Tetapi di sisi lain ada pertanyaan yang sering terlupakan:
Apa kewajiban saya?
Kalau saya menuntut sesuatu dari orang lain, apa yang menjadi tanggung jawab saya?
Kalau saya ingin lingkungan yang baik, apa kontribusi saya terhadap lingkungan tersebut?
Kalau saya ingin negara yang maju, apa yang sedang saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan diri?
Perubahan mungkin tidak akan datang ketika semua orang terus menunggu orang lain bergerak.
Perubahan dimulai ketika kita menyadari:
saya juga memiliki tanggung jawab.
Lalu, Bagaimana Cara Membebaskan Pikiran?
Menariknya, Prof. Bagus tidak berhenti pada kritik.
Ia juga memberikan beberapa jalan yang bisa dilakukan.
Salah satunya adalah merantau.
Pergi dari lingkungan sendiri.
Keluar dari kota.
Keluar dari komunitas.
Bahkan pergi ke negara lain jika memiliki kesempatan.
Mengapa?
Karena ketika kita keluar dari lingkungan yang selama ini membentuk kita, kita dipaksa untuk melihat bahwa cara hidup yang selama ini kita anggap normal ternyata hanyalah salah satu dari sekian banyak cara hidup.
Kita belajar bahwa dunia tidak sesempit lingkungan tempat kita tumbuh.
Belajar Bahasa Berarti Memperluas Cara Berpikir
Prof. Bagus juga menekankan pentingnya belajar bahasa asing.
Bukan hanya untuk bisa berbicara dengan orang asing.
Tetapi karena bahasa membentuk cara kita memahami dunia.
Ketika mempelajari bahasa baru, kita juga berhadapan dengan cara berpikir, budaya, dan perspektif yang berbeda.
Kita mulai memahami bahwa tidak semua konsep dapat diterjemahkan secara sederhana.
Dan dari sana, pikiran kita menjadi lebih lentur.
Lebih terbuka.
Lebih mampu melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.
Jangan Lupakan Narasi Kita Sendiri
Namun keterbukaan terhadap dunia tidak berarti kita harus kehilangan akar.
Justru Prof. Bagus mengajak kita melakukan hal sebaliknya:
menggali kembali pengetahuan dan kebudayaan sendiri.
Mempelajari naskah kuno.
Memahami sistem pengetahuan lokal.
Melihat bagaimana masyarakat terdahulu menyelesaikan persoalan.
Mengenal konsep seperti Subak di Bali.
Membaca kembali sejarah bukan hanya sebagai hafalan tanggal dan nama tokoh, tetapi sebagai warisan cara berpikir.
Sebab sebuah bangsa yang tidak mengenal narasinya sendiri akan mudah menerima narasi yang dibuat oleh orang lain.
Kompetensi Harus Dihargai
Mungkin ini salah satu pesan Prof. Bagus yang paling keras:
kita perlu belajar menghargai kompetensi.
Jangan hanya melihat apakah seseorang terlihat baik.
Jangan hanya melihat popularitas.
Jangan hanya melihat jumlah pengikut.
Jangan hanya melihat jabatan.
Tanyakan:
Apa yang benar-benar ia kuasai?
Apa rekam jejaknya?
Apakah prediksi dan pernyataannya dapat dipertanggungjawabkan?
Menurut gagasan Prof. Bagus, kompetensi perlu menjadi bagian penting dalam cara kita memilih siapa yang layak dipercaya di ruang publik.
Karena keputusan yang dibuat oleh orang yang tidak kompeten dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Jangan Terlalu Sibuk Mencari Kebahagiaan Instan
Dan mungkin bagian terakhir justru terasa sangat relevan untuk generasi muda.
Kita hidup di zaman yang serba cepat.
Ingin cepat sukses.
Cepat kaya.
Cepat terkenal.
Cepat mendapatkan pekerjaan.
Cepat bahagia.
Padahal perjalanan Prof. Bagus sendiri menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Ada kegagalan.
Ada penolakan.
Ada tekanan.
Ada kesepian.
Ada fase ketika ia merasa tidak mampu.
Tetapi justru melalui proses tersebut kemampuan dirinya terbentuk.
Karena itu, kebahagiaan mungkin tidak selalu harus menjadi tujuan utama.
Prof. Bagus menggambarkan kebahagiaan sebagai by-product dari kehidupan yang bermakna.
Artinya, kebahagiaan bisa muncul sebagai hasil dari proses ketika kita menjalani sesuatu yang bernilai, menghadapi tantangan, dan terus berkembang.
Bukan sekadar mengejar rasa nyaman.
Setelah Mendengar Prof. Bagus, Saya Justru Pulang dengan Lebih Banyak Pertanyaan
Yang menarik dari video ini adalah saya tidak merasa selesai setelah mengetahui apa itu dekolonisasi pikiran.
Justru sebaliknya.
Saya pulang dengan lebih banyak pertanyaan.
Apakah saya benar-benar berpikir sendiri?
Atau hanya mengulang apa yang sering saya dengar?
Apakah saya menilai seseorang berdasarkan kompetensinya?
Atau berdasarkan status dan popularitasnya?
Apakah saya menganggap sesuatu lebih baik hanya karena berasal dari luar negeri?
Apakah saya terlalu sering menyalahkan keadaan ketika sebenarnya ada bagian yang menjadi tanggung jawab saya?
Dan yang paling besar:
Apakah kita sebagai bangsa sudah cukup percaya bahwa kita juga mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi dunia?
Mungkin inilah kekuatan terbesar dari pembahasan Prof. Bagus.
Ia tidak hanya membuat kita berpikir tentang Indonesia.
Ia membuat kita bercermin sebagai individu.
Mungkin Kemerdekaan yang Sebenarnya Ada di Dalam Kepala Kita
Pada akhirnya, saya melihat dekolonisasi pikiran bukan sebagai ajakan untuk membenci Barat.
Bukan pula ajakan untuk menganggap Indonesia selalu benar.
Dan bukan tentang membangun kebanggaan kosong terhadap identitas sendiri.
Justru sebaliknya.
Kita tetap perlu belajar dari dunia.
Tetap terbuka terhadap ilmu pengetahuan.
Tetap menerima kritik.
Tetap mengakui ketika kita salah.
Tetapi pada saat yang sama, kita juga harus memiliki keberanian untuk mengatakan:
kita mampu berpikir.
kita mampu belajar.
kita mampu menghasilkan pengetahuan.
kita mampu bertanggung jawab.
Dan kita mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Dari perjalanan Prof. Bagus, dari IPK 2,69 hingga akhirnya menjadi profesor di Inggris, ada satu pelajaran yang menurut saya sangat kuat:
jangan terlalu cepat menentukan bahwa diri kita tidak mampu.
Karena mungkin masalahnya bukan kita tidak memiliki kemampuan.
Mungkin kita hanya belum pernah memaksa diri untuk menemukan kemampuan tersebut.
Dan mungkin, dalam konteks yang lebih besar, hal yang sama juga berlaku untuk Indonesia.
Kita tidak kekurangan potensi.
Kita tidak kekurangan sumber daya.
Kita tidak kekurangan manusia cerdas.
Yang mungkin masih perlu kita bangun adalah kepercayaan bahwa kita mampu berpikir, menciptakan, dan menentukan narasi kita sendiri.
Sebab Indonesia sudah merdeka secara politik.
Tetapi kemerdekaan dalam berpikir adalah perjuangan yang harus terus kita lakukan.
Dan mungkin perjuangan itu dimulai dari satu hal sederhana:
berhenti menyerahkan pikiran dan tanggung jawab kita kepada orang lain.
Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi:
“Siapa yang akan menyelamatkan kita?”
Tetapi:
“Apa yang akan kita lakukan dengan kemampuan yang kita miliki?”